PUBLIKASI - RS Mata Undaan Menjadi Narasumber di EJOWS (East Java Ophthalmology Symposium & Workshop) 2024

RS Mata Undaan Menjadi Narasumber di EJOWS (East Java Ophthalmology Symposium & Workshop) 2024

...

PERDAMI Jawa Timur kembali menyelenggarakan simposium dan workshop bagi dokter spesialis mata, dokter umum/residen, dan mahasiswa kedokteran. Dalam penyelenggaraannya yang ke-6, East Java Ophthalmology Symposium & Workshop (EJOWS) mengusung tema “Ophthalmic Trauma: Are We Doing Enough?”. Acara ini digelar selama dua hari, dari tanggal 3 hingga 4 Mei 2024, di DoubleTree by Hilton Surabaya, dan menghadirkan para ahli serta praktisi di bidang oftalmologi.

Pada hari pertama EJOWS, dr. Dini Dharmawidiarini Sp.M., dokter spesialis mata dari RS Mata Undaan divisi Lensa, Kornea, dan Bedah Refraktif, mengisi sesi Wet Lab “Suture Scleral Fixation” serta menjadi narasumber simposium pada sesi “Traumatic Lens and Cataract”. Dalam simposium yang membahas tentang Dislokasi Lensa Traumatis, eliau menjelaskan bahwa dislokasi lensa traumatis adalah kondisi di mana lensa mata terlepas dari posisinya akibat cedera, yang bisa berupa dislokasi parsial (subluksasi) atau lengkap (luksasi). Cedera tumpul pada mata dapat menyebabkan pelepasan serat-serat zonular sehingga lensa bergeser ke berbagai arah, baik posterior ke dalam rongga vitreous atau anterior ke dalam bilik mata depan.

Beliau menambahkan, pentingnya CT scan, USG, dan AS-OCT untuk mendiagnosis dislokasi parsial, sementara diagnosa lainnya dapat dilakukan melalui riwayat medis pasien serta pemeriksaan slit lamp untuk melihat getaran lensa (phacodenesis) dan iris. Manajemen dislokasi lensa traumatis ditentukan berdasarkan kasus per kasus, bergantung pada kondisi klinis dan komplikasi yang terjadi. Hadir dalam salah sesi di simposium tersebut, dr. Ria Sylvia, Sp.M dari divisi Pediatric Ophthalmology yang berpartisipasi sebagai moderator.

Pada hari kedua EJOWS, beberapa dokter spesialis mata dan optometris dari RS Mata Undaan juga turut serta sebagai narasumber simposium. Di antaranya adalah dr. Dewi Rosarina, Sp.M dari divisi Glaukoma, dr. Irma Praminiarti, Sp.M dari divisi Pediatric Ophthalmology, dan Kuncoro Jakti sebagai okularis di RS Mata Undaan Surabaya. dr Farida moenir, juga turut serta sebagai moderator pada salah satu sesi.

dr. Dewi Rosarina, Sp.M membawakan materi pada sesi yang membahas Traumatic Glaucoma. Dalam presentasinya, dr. Dewi Rosarina, Sp.M menjelaskan bahwa glaucoma traumatis merupakan salah satu komplikasi paling sulit dari cedera mata. Kondisi ini dapat muncul segera setelah trauma atau bertahun-tahun kemudian. Pengambilan riwayat cedera yang baik serta pemahaman tentang mekanisme peningkatan tekanan intraokular (IOP) melalui evaluasi yang tepat sangat penting untuk membuat keputusan yang benar dalam manajemen pasien. Hal ini esensial untuk memberikan perawatan optimal dan mencegah komplikasi jangka panjang yang dapat mengganggu fungsi penglihatan pasien.

 

Sedangkan dr. Irma Praminiarti, Sp.M membawakan materi mengenai penyebab strabismus pasca trauma (okular/orbital). Beliau menekankan bahwa beberapa etiologi yang bervariasi atau gabungan dapat menjadi penyebab strabismus setelah trauma. Diagnosa yang tepat mengenai jenis dan tingkat keparahan cedera, serta pembeda antara penyebab mekanis dan keterlibatan neurologis sangat penting untuk menentukan waktu dan pendekatan bedah optik bagi setiap pasien. CT resolusi tinggi atau MRI Dinamis Surface Coil diperlukan untuk menentukan sejauh mana dan sifat cedera tulang atau otot ekstraokular (EOM), serta kontraktilitas otot. Evaluasi yang menyeluruh ini memastikan penanganan yang sesuai dan efektif bagi pasien dengan strabismus pasca trauma.

Penyampaian dilajutkan oleh Bapak Kuncoro Jakti, selaku okularis di RS Mata Undaan, yang membawakan topik mengenai protesa mata pada sesi yang terkait. Beliau menjelaskan definisi, jenis, bahan, proses pembuatan, serta perawatan protesa mata. Protesa mata merupakan alat khusus yang menyerupai bola mata dan dipasang ke dalam rongga mata. Protesa ini berfungsi untuk rehabilitasi kosmetik dan meningkatkan rasa percaya diri pasien yang mengalami kerusakan mata. Pembuatan protesa sebaiknya dilakukan oleh okularis untuk hasil yang maksimal. Pemilihan jenis protesa mata yang tepat tergantung pada kebutuhan dan preferensi pasien, dengan proses pembuatan meliputi pemeriksaan, pembuatan cetakan, dan pembuatan protesa.

Melalui EJOWS 2024, diharapkan para praktisi medis dapat terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menangani trauma mata, serta memberikan perawatan terbaik bagi pasien. Bagi RS Mata Undaan, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk saling sharing terkait kasus-kasus mata yang seringkali dijumpai di RS Mata Undaan, sekaligus sebagai upaya memperkuat pengetahuan tim dokter di bidang Oftalmologi.


...

Terapi IPL Tangani Mata Kering

Sumber: Metropolis

...

https://rsmataundaan.co.id/index.php/konten/publikasi_detail/24

Peringati World Sight Day 2023, RS Mata Undaan Gelar Pemeriksaan Mata Gratis Untuk Pekerja Media

...

Operasi Mata Minus Hanya 8 Detik

Proses operasi mata menggunakan Zeiss Visumax 800 di RS. Mata Undaan

...

Dukung Pengobatan Mata Menjadi Medical Tourism

Walikota Surabaya Bpk Eri Cahyadi , S.T., M.T. menyatakan peresmian Gedung LASIK & Aesthetic Center menjadi sarana Medical Tourism di Surabaya

...

Lapang Pandang Menyempit, Segera Periksa Mata

Sosialisasai tentang pentingnya deteksi dini Glaukoma kepada masyarakat

...

Tangani Katarak 20 Pasien Miskin

Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak RS. Mata Undaan

...

Waspadai Sindrom Mata Kering

Mata Kering dipicu akibat terlalu lama melihat gadget