HARIAN DISWAY – Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya memeriahkan Perayaan World Glaucoma Week (WGW) 2026.
Mereka menggelar acara sosial Deteksi Dini Glaukoma di gedung Auditorium dr. Badri Sp.M, 10 Maret 2026. Peserta yang mayoritas lansia kompak mengenakan pakaian serba hijau.
Mengusung tema Uniting for a Glaucoma-Free World, Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya ingin mengajak masyarakat supaya lebih peduli dan sadar akan risiko glaukoma.
Anda sudah tahu, glaukoma menjadi salah satu penyebab kebutaan tertinggi di dunia yang permanen atau tidak dapat disembuhkan.
Data dari World Health Organization (WHO) menyebut bahwa lebih dari 70 juta orang meninggal dunia karena menderita glaukoma. Dan diprediksi akan bertambah hingga 2040.
Acara itu bertajuk Glow Iftar – Glaucoma Week 2026. Dengan kegiatan edukasi glaukoma bersama pasien penyintas glaukoma. Hadir pula dr. Dewi Rosarina, Sp.M (K), dokter spesialis mata Rumah Sakit Mata Undaan dan Ketua Panitia WGW 2026.
“Glaukoma sering disebut sebagai ‘pencuri penglihatan.’ Karena kehadirannya sering kali tanpa gejala di tahap awal. Dengan momen Glow Iftar ini, kami ingin merangkul komunitas Pejuang Glaukoma (JAGOAN). Juga masyarakat luas. Mengedukasi supaya tidak takut. Melainkan proaktif melakukan deteksi dini,” kata Rina.
Perayaan Glow Iftar diiringi dengan pemeriksaan tekanan bola mata gratis dengan alat Non-Contact Tonometry (NCT). Tujuannya adalah semakin dini dideteksi, semakin baik dan mudah pengobatannya.
Harapannya, JAGOAN bisa membantu memberikan edukasi kepada pasien lain. Termasuk memberi motivasi kepada para pengidap glaukoma.
“Kerja sama itu juga diharapkan dapat membantu menjaring deteksi kasus stadium awal. Serta berkontribusi dalam pencegahan glaukoma dalam kegiatan World Glaucoma Week,” terang dr. Sahata PH. Napitupulu Sp.M(K), Direktur Rumah Sakit Mata Undaan pada opening WGW 2026.
Kegiatan edukasi glaukoma itu berlangsung dalam format sharing session. Materinya ditayangkan dan dipresentasikan lewat video pada layar.
Rina menyebut glaukoma dapat menyerang segala usia. Bahkan sejak bayi. Namun, yang paling sering ditemui di Rumah Sakit Mata Undaan adalah orang yang sudah lanjut usia.
Glaukoma adalah penyakit mata yang menyerang ke saraf. Sehingga menyebabkan penyempitan lapang pandang.
Penyakit tersebut menimbulkan mata menjadi berkabut. Lalu diikuti dengan penyempitan luas lapang pandang.
“Pihak keluarga dapat memperhatikan saudaranya yang menderita glaukoma. Umumnya mereka sering berjalan lalu menabrak atau tersandung sesuatu. Itu karena ada penyempitan lapang pandang,” imbuhnya.
Glaukoma sering dianggap remeh. Karena masih banyak masyarakat yang belum tahu mengenai waktu yang tepat untuk diperiksakan.
Rina menyarankan agar pemeriksaan dilakukan secara rutin. Sebab, sampai saat ini belum ada cara terkait pencegahan penyakit glaukoma.
Untuk usia kurang dari 40 tahun dapat memeriksakan tekanan bola mata minimal dua tahun sekali.
Sedangkan, bagi yang sudah berusia 40 tahun ke atas harus mengecek sebanyak setahun sekali. Tekanan bola mata normal adalah 10-20 mmHG.
Kegiatan tersebut sekaligus menyadarkan betapa pentingnya dukungan orang sekitar bagi pengobatan penyintas glaukoma.
“Saat dokter menyarankan untuk operasi glaukoma, pasti membuat khawatir dan cemas. Namun, karena mendapat support dari istri, akhirnya saya bersemangat berobat,” kata Anam dalam sharing session.
Selain sesi edukasi, acara Glow Iftar juga diwarnai dengan pembagian doorprize, buka puasa bersama, dan aksi sosial JAGOAN Berbagi.
Pada aksi sosial tersebut, Rumah Sakit Mata Undaan membagikan bingkisan sembako kepada pedagang kaki lima, tukang becak, serta pekerja informal di sekitar rumah sakit.
Serangkaian kampanye WGW Rumah Sakit Undaan tak sebatas pada 10 Maret. Ada edukasi live radio pada 3 Maret 2026.
Lantas kegiatan edukasi dan skrining gratis yang dilaksanakan di Puskesmas Kenjeran pada 11 Maret. Serta kampanye media sosial Glaucoma Photo Challenge.
Perayaan tersebut diharapkan mampu mengurangi kasus kebutaan. Pun, menyuarakan visi dunia tanpa kebutaan akibat glaukoma.
